Suatu hari,ada sesosok yang sepertinya manusia sedang dalam perjalanan pulang atau pun sedang dalam perjalanan membeli sesuatu yang menurutnya tidak penting untuk pribadi tapi penting untuk pribanyak.Setelah selesai membeli apa itu yang akan di gunakan untuk pribanyak,sesosok yang mungkin manusia itu bergegas keluar area parkulakan.Dengan tidak banyak sisa uang yang di satukan dalam kantong tanpa dompet,sesosok yang mungkin manusia itu tiba-tiba berpikir tentang sesuatu yang selama hidupnya menjadi salah satu makanan favorit,TIADA LAIN TIADA BUKAN,cuma MIE AYAM yang harganya cuma 10 ribu rupiah per porsi itu pun jarang di beli secara pribadi.Dengan perut keroncongan membayangkan nikmatnya MIE AYAM untuk sesosok kelas CERE,bergegaslah sesosok yang sepertinya manusia itu ke tempat TUKANG MIE AYAM mangkal mencari rezeki.
Sayang sungguh sayang,di seperempat perjalanan,dia berpikir,jika cuma membeli untuk pribadi,bagaimana pribanyak yang di rumah?mungkin mereka juga ingin merasakan apa yang akan saya makan nanti,jika beli banyak,anggaran tidak mencukupi.Saya tidak ingin seperti pilih kasih.
Segeralah sesosok yang sepertinya manusia itu berpikir,menimbang,dan akhirnya berasumsi,lebih baik saya membeli MIE REBUS,10 ribu rupiah menjadi 5 bungkus mie rebus mentah.cukup untuk pribanyak bukan cuma untuk pribadi,ya walaupun tidak harus bersamaan waktunya manikmati mie rebus.Yang pasti tidak merasa egois,kasihan membayangkan pribanyak yang tidak menikmati apa yang saya nikmati.Keadaan terus dan selalu begitu,sampai saat ini mungkin sesosok yang sepertinya manusia itu belum menikmati apa yang di inginkan secara pribadi.
Tapi terkadang pada kenyataannya,hal seperti itu tidak ternilai sama sekali,mungkin karena mereka tidak tahu dan tidak merasa bahwa hal kecil walaupun dengan sedikit pengorbanan itu hal biasa.
Tapi apakah harus dengan seperti tidak di hargai?kemana saja selama ini waktu dan pikiran serta yang lainnya?kalau bukan untuk pribanyak,bukan untuk pribadi.SAKITNYA TUH DISINI.
Sialnya,sesosok yang sepertinya manusia itu bukan seorang suami dari sesosok yang lain,bukan juga seorang ayah dari sesosok putra atau putri.
Sesosok yang sepertinya manusia itu cuma sorang biasa yang tanpa posisi,predikat atau profesi.
Masih seorang anak dan seorang keluarga untuk mereka yang masih mengakui.
Mulai dari sekarang,marilah berpikir untuk lebih menghargai orang lain sekecil apapun hal yang mungkin positif yang orang itu lakukan.







